Adil dan Berkeadilan

Al Falakiyah_Bogor.

10/4/2015

Bismillahirrahmahnirrahim

bw0099

Setiap manusia tentulah menginginkan kehidupan selamat dan bahagia. Kehidupan bahagia itu akan ada dan dinikmati seseorang ketika ia hidup dengan adanya rasa aman, tenang, nyaman, serasi dan harmoni dalam hidup dan kehidupannya. Salah satu factor utama yang dapat mewujudkan suasana hidup senang dan bahagia, itulah “Tegaknya Keadilan” dalam kehidupan baik pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.

Apabila keadilan tidak tegak maka suasana hidup dan kehidupan dengan segala tingkatan dan sektornya tentulah akan terganggu, bahkan tidak mustahil kehidupan akan berada pada situasi dan kondisi hancur berantakan. Akan melahirkan suasana galau dan kacau balau, wibawa hukum tidak ada, para aparatur pemerintah pun tidak disegani, penyimpangan-penyimpangan (khususnya korupsi) dengan segala bentuk dan sifatnya terjadi dimana-mana, pembangunan tidak berjalan sebagaimana mestinya, yang kuat semakin kaya dan yang miskin semakin menderita dan sengsara, gilirannya Negara dan bangsa menjadi korban pelecehan Negara dan bangsa lain.

Hakikat Adil

Kata adil berarti : sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak. Adil juga berarti : berpihak kepada yang benar. Dari sisi lain adil juga berarti “tidak bertindak sewenang-wenang”. Keadilan adalah sumber keseimbangan dalam hidup, adil juga sumber kebersamaan, sumber keserasian, sumber keharmonian. Nilai keadilan tidak hanya (berkaitan) dengan hukum positif beserta lembaga/badan serta para personil yang ada di dalamnya, akan tetapi nilai adil menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia dengan apa dan siapapun dalam hidupnya, baik yang berhubungan dengan segala makhluk maupun dengan jalur vertical (hablum minallah).

Pendek kata keberadaan seluruh makhluk termasuk manusia, kesemuanya tidak akan bisa hidup secara baik dan benar kecuali (semuanya) sesuai dengan fitrahnya masing-masing (berdasarkan) ketentuan Allah SWT. Keseimbangan dan keharmonian semua makhluk (termasuk manusia) di dunia ini tidak akan terjadi kecuali bersama nilai-nilai keadilan.

Adil dalam Aqidah

Dalam Islam masalah aqidah/iman ibarat bangunan adalah pondasinya. Sebagai pondasi posisi dan kondisinya harus kokoh. Tahan atau tidaknya seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan, hambatan dan gangguan tergantung pada kadar aqidah/imannya. Seseorang akan tetap pada posisinya (tidak goyah) apabila aqidah/imannya kokoh/kuat, dan sebaliknya, seseorang akan mudah goyah apabila aqidah/imannya lemah. Orang yang mampu bertahan (menang) dialah yang akan selamat dan selalu bersama lindungan dan bimbingan Allah SWT.

Secara fitrah manusia (seseorang) harus bersama aqidah/iman yang kokoh (kuat). Karena aqidah/iman yang kokoh adalah sesuatu yang paling tinggi nilainya di dalam diri seseorang dalam hidupnya. Oleh karena itu masalah aqidah/iman (bagi seorang muslim) adalah sesuatu yang harus dijaga, dibela dan dipertahankan dalam hidup dan kehidupan di dunia ini, yang dengan demikian ia akan selamat dari segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan hidup.

Adil dalam Ibadah

Allah SWT menciptakan seluruh makhluk-Nya dengan sungguh-sungguh dan sempurna. Seluruh ciptaan-Nya diciptakan-Nya dengan cermat, tidak ada yang salah semuanya termasuk manusia sebagai ciptaan-Nya yang paling sempurna, paling mulia dan ditetapkan-Nya sebagai wakil-Nya di muka bumi ini. Oleh karena itu manusia sangat tidak patut melakukan kedurhakaan kepada Allah, dengan kata lain si manusia tidak boleh melakukan ketidakadilan dalam hidupnya. Seharusnya manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dan paling mulia (wajib) menjalani hidup dengan nilai-nilai keadilan antara dirinya dengan Tuhannya. Dengan demikian berarti nilai-nilai keadilan telah mendasari hidup dan kehidupan seseorang itu.

Seorang muslim (dalam hidupnya) dituntut agar memposisikan diri dan kehidupannya dalam rangka ibadah (QS. Addzariyat[51]:56). Ada ibadah mahdhah, itulah shalat, puasa, zakat dan haji; sedangkan ibadah ghairu mahdhah, itulah seluruh aktivitas hidup (selain ibadah mahdhah). Apa saja kegiatan (pekerjaan) seorang muslim haruslah selalu dalam rangka karena Allah. Seseorang (dalam hidup) wajib mengetahui dan menyadari bahwa dirinya tidak pernah lepas dari hak dan kewajiban. Dalam satu sisi ia berhak dari apa dan siapa, namun (pada sisi lain) ia juga berkewajiban memberi/melakukan sesuatu untuk sang pemberi (sesuatu) haknya.

Adil dalam Bermu’amalah

                Dalam bermu’amalah ini manusia muslim dituntut melakukannya dengan Islami. Adanya saling memberi dan menerima. Boleh mengambil/menuntut hak tapi harus melakukan kewajiban. Prinsip ini harus berlangsung secara berimbang dalam seluruh aspek kehidupan dengan kata lain, nilai-nilai keadilan harus selalu ada baik pemberi maupun penerima.

Dalam bermu’amalah, antara sesama teman, antara orangtua dengan anak-anaknya, antara pedagang dan pembeli, antara pemerintah dan rakyat, antara guru dengan murid, antara pimpinan dengan yang dipimpinnya, antara satu dengan yang lain dan seterusnya harus berlangsung dengan adil dan berkeadilan, sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik, lancer dan benar.

Hidup dengan prinsip adil dan berkeadilan adalah sebagai kata kunci untuk mewujudkan kehidupan yang aman, tenang, dan nyaman, harmoni dan serasi. Keberadaan nilai-nilai adil dalam berinteraksi, setiap orang tidak boleh setengah hati, akan tetapi harus berlangsung secara maksimal (total), setiap individu memiliki keimanan baik dan maksimal, berlangsung diseluruh sector kehidupan, baik jalur vertical (hablum minallah) maupun horizontal (hablum minannas).

Fattaqullaha mastatha’tum…

#redaksi_ziednie

0saves
If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>