Category Archives: Artikel

Puasa menjaga bicara

Tingkatan Puasa

TINGKATAN PUASA

Hujjatul Islam Al Imam Abu Hamid al-Ghazali (wafat tahun 505 H) dalam kitabnya Ihya’ Ulumud Din menguraikan dengan jelas dan bagus rahasia-rahasia puasa yang bersifat batiniah, yang akan mengantarkan orang yang berpuasa menuju tingkatan puasa yang paling tinggi dan sempurna. Ketiganya bagaikan tangga yang selalu menarik siapapun untuk menaikinya agar sampai di tempat yang lebih tinggi.

Ulama besar madzhab Syafi’i dan rektor Universitas Nizhamiyah kota Naisabur itu berkata:

اعْلَمْ أَنَّ الصَّوْمَ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ: صَوْمُ الْعُمُومِ، وَصَوْمُ الْخُصُوصِ، وَصَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ

“Ketahuilah sesungguhnya shaum (puasa) itu ada tiga tingkatan; puasa umum, puasa khusus, dan puasa sangat khusus.” (Imam Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Dien, 1/234)

Tujuh Kalimat Mustajab

Alfalakiyah_Bogor 25.4.15

Tulisan ini di muat di HU Republika dalam rubrik hikmah.23.4.15

Semua orang mendambakan kebahagiaan. Akan tetapi, memaknai sebuah kebahagiaan bisa berbeda antara satu dan yang lainnya. Bagi kaum materialis, bahagia adalah jika sudah terpenuhinya segala kebutuhan fisik. Hanya, kebutuhan fisik tidak akan pernah ada batasannya.

H.Khotimi Bahri dan Kyai Tb. Asep ZUlfiqor (pengasuh PP Hamalatul Quran Al Falakiyah-Bogor)

H.Khotimi Bahri dan Kyai Tb. Asep ZUlfiqor (pengasuh PP Hamalatul Quran Al Falakiyah-Bogor)

Dalam agama Islam, kebahagiaan (as-sa’adah) adalah selerasnya keinginan hamba dengan taufik Allah SWT. Kebahagiaan ini akan terasa tidak hanya ketika masih hidup di dunia, tetapi juga akan terus berlanjut hingga kehidupan di akhirat kelak.

Ada tujuh kalimat yang sangat mulia di sisi Allah beserta para malaikat, sekaligus menempatkan orang yang istiqamah mengamalkannya, mendapatkan ampunan Allah SWT. Inilah sebenarnya kebahagiaan yang hakiki yang dicari setiap hamba Allah SWT.

Pertama, membaca basmalah (bismillah) ketika akan memulai segala sesuatu. Dengan membaca basmalah, berarti seorang hamba menyertakan permohonan keberkahan dan limpahan rahmat Allah dalam pekerjaannya. Kedua, membaca hamdalah (alhamdulillah) ketika selesai mengerjakan sesuatu. Hamdalah adalah kalimat pujian seorang hamba atas kemudahan dan kemurahan Allah yang menyertai pekerjaannya.

Ketiga, membaca istighfar (astaghfirullah) jika terucap kata yang tidak patut. Perkataan kotor, nista, dan mengandung unsur nifak merupakan hal yang tercela, karenanya Islam sangat mengecam perilaku ini. Demikian juga tindakan-tindakan yang menyalahi norma agama. Maka sepatutnya bagi pelakunya untuk memohon ampunan Allah SWT. Keempat, mengucapkan “insya Allah” ketika ingin berbuat sesuatu. Rasulullah Muhammad SAW pernah diingatkan oleh Allah agar mengucapkan kalimat tersebut jika menjanjikan sesuatu. Ini terkait dengan janji Beliau untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kaum Quraisy.

Kelima, mengucapkan “la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyil adzim” jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya. Kalimat ini sekaligus menegaskan kemahakuasaan Allah dan menunjukkan kelemahan hamba di hadapan-Nya. Keenam, mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un” jika sedang tertipa musibah. Kalimat yang dikenal dengan sebutan istirja’ ini menunjukkan sikap tawakal sang hamba. Dan tawakal merupakan salah satu sifat yang diperintahkan dalam Islam.

Ketujuh, membaca “La Ilaha Illallahu, Muhammadur Rosulullah” sepanjang hari, petang dan malam. Kalimat persaksian ini merupakan akar sekaligus password bagi setiap kaum Muslimin. Dengan kalimat ini seorang hamba bisa langsung mengikatkan ruhaninya dengan Sang Pencipta segala sesuatu. Kalimat yang jika dibaca di akhir hayat seseorang akan menjadi penjamin surga sekaligus pembuka pintu surga di akhirat kelak. Wallahu a’lam bishawab.

Oleh H A Khotimi Bahri

#redaksi,ziednie

bw0110

Anak Sholeh yang Mendoakannya

Al Falakiyah_Bogor.

13/4/2015

Jika kita punya anak shalih yang mendoakan kita, Insya Allah kita akan mendapat pahala juga karena kita telah berjasa mendidik mereka sehingga jadi anak yang shaleh. Oleh karena itu jika kita diamanahi anak oleh Allah, hendaknya kita didik mereka sebaik mungkin hingga jadi anak yang shaleh. Seorang ibu jangan ragu untuk meninggalkan pekerjaanya di kantor agar bisa focus mendidik anaknya.bw0110

Lalu bagaimana jika kita tidak punya anak kandung ? Di situ tidak dijelaskan apa anak shaleh itu anak kandung atau bukan. Jadi jika memelihara anak yatim piatu pun kita tetap akan mendapat pahala jika mereka jadi anak shaleh dan mendoakan kita.

Dari Abu Ummah, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa yang membelai kepala anak yatim piatu karena Allah SWT, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang diusap. Dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan laki-laki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah saw mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.” ( H.R Ahmad)

Dari situ jelas bahwa orang yang memelihara anak yatim dengan penuh kasih saying Insya Allah akan masuk surga. Surganya pun bukan surga tingkat rendah. Tapi surga tingkat tinggi karena berada di dekat nabi Muhammad saw laksana jari telunjuk dengan jari tengah.

Paling tidak jika ada anak dari saudara kita atau sepupu kita, santunin mereka. Bantu mereka. Menyumbang ke keluarga karena miskin yang ada anaknya ataupun panti asuhan Insya Allah bisa mendapatkan pahala. Wallahualam bishowab.

-Mutiara Hadits-

#redaksi

ITTIBA’UR RASUL

Al Falakiyah_Bogor

12/4/2015

By ziednie Wafiq


“Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap tiap umat (untuk menyerukan ):

”sembahlah allah (saja) dan jauhilah Thaghut”.(QS.AN NAHL (16):36).

bw0090

Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Di dalam syara’ ibadah, mempunyai banyak definisi, terapi makna dan maksudnya satu .Definisi itu antara lain:

  1. Ibadah ialah saat kepada Allah dengan melaksanakan perintahnya melalui lisan para Rasul Nya.
  2. Ibadah adalah merendahkan diri pada Allah swt yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai rasa mahabbah  (kecintaan)yang paling tinggi.
  3. Ibadah ialah sebutan yang mencakub seluruh apa yang dicintai dan diridhoi Allah Baik ucapan atau perbuatan yang zhahir maupun yang batin. ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap.

Syarat ibadah

            Para ulama menyebutkan tentang syarat ibadah yaitu;

  1. ikhlas yakni menunjukkan ibadah hanya kepada Allah swt.”Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dg memurnikan ketaatan kepadanya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat: dan yang demikian itulah agama yang lurus”.(QS.98:5).
  2. ITTIBAUR RASUL ( mengikuti rasul).

Pada pembahasan ini akan dijelaskan seputar penjelasan syarat kedua ittibaur rasul. syarat ini merupakan landasan dan patokan utama diterimanya ibadah.

Rosulullah saw pernah menegaskan kepada kita di dalam hadisnya bahwa: “barang siapa yang melakukan sebuah amal perbuatan yang tidak ada contoh dari kami maka itu tertola”k.(HR.bukhori muslim).

Perlu diketahui bahwa ittibaur rasul (mengikuti rasul) tidak akan dicapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syariat dalam 6 perkara.

         PERTAMA: Sebab

            Jika orang melakukan suatu ibadah karena Allah swt dengan sebab yang tidak di syariatkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima (ditolak) misal saja ketika ada orang yang melakukan shalat tahajjud pada malam dua puluh tujuh bulan rajab dengan dalih bahwa malam itu adalah malam Mi’roj Rosulullah ( dinaikkan keatas langit ). Shalat tahajud adalah ibadah tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut menjadi bid’ah. karena ibadah jika didasarkan atas sebab yang tidak ditetapkan dalam syariat. syarat ini, yaitu ibadah harus disesuaikan dengan syariat dalam sebab adalah penting, karena dengan demikian dapat diketahui beberapa jenis ritual yang dianggap termasuk sunah, namun sebenarnya  adalah bid’ah.

Kedua; Jenis

Maksudnya ialah ibadah harus sesuai dengan syariat dalam jenisnya. Jika tidak, maka tidak diterima contoh, seorang yang menyembelih kuda untuk kurban  adalah tidak sah, karena menyalahi ketentuan syariat dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan kurban yaitu,  unta,sapi, lembu dan kambing.

Ketiga; Kadar(bilangan)

Kalau seseorang yang menambah bilangan rekaat suatu sholat yang menurutnya hal itu diperintahkan maka, sholat tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima, karena tidak sesuai dengan syariat (bilangan rekaatnya). Jadi, apabila ada orang  sholat dhuhur lima rekaat umpamanya maka sholatnya tidak sah.

Keempat; Kaifiyah (cara)

Seandainya ada orang yang berwudlu dengan cara membasuh lengan tangan sebelum muka, maka tidak sah wudlunya. Karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan oleh syariat.

Kelima: Waktu

Apabila ada orang yang menyembelih binatang kurban pada hari pertama pada bulan Dzulhijjah, maka tidak sah karena waktu pelaksanaannya tidak menurut ajaran Islam.

Adapula yang bertaqorrub kepada Allah pada bulan Romadlon dengan menyembelih kambing. Amal seperti ini adalah bid’ah, karena tidak ada sembelihan yang ditujukan untuk bertaqorrub kepada Allah SWT kecuali sebagai kurban, denda haji dan aqiqah. Adapun menyembelih pada bulan Romadlon dengan i’tikad menambah pahala atas sembelihan tersebut sebagaimana dalam idul adha adalah bid’ah. Kalau menyembelih hanya untuk memakan dagingnya dengan niat shodaqoh  maka tidak mengapa.

Keenam: Tempat

Andaikata ada orang yang berI’tikaf selain masjid maka tidak sah i’tikafnya. Sebab tempat i’tikaf hanyalah dimasjid. Begitu pula andaikata ada seorang a hendak beri’tikaf di dalam musholla di dalam rumahnya, maka tidak sah i’tikafnya. Karena tempat melakukannya tidak sesuai dengan ketentuan syariat. Contoh lainnya; seorang yang melakukan thowaf di luar Masjidil Hrarom dengan alasan karena  tempat melakukan thowaf adalah dalam baitullah tesebut. Sebagaimana firman Allah :

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud”.( Qs. Al hajj :22,26).

Ibadaha adalah perkara taufiqiyyah artinya tidak suatu bentuk ibadahpun yang di syariatkan kecuali berdasarkan Al Quran dan hadits. Apa yang tidak disyariatkan berarti ditolak dan tidak diterima. Bahkan ia berdosa sebab amal tersbut adalah maksiat bukan taat.

Ada dua Golongan yang salingbertentangan dalam soal ibadah :

Golongan pertama :  yang mengurangi makna ibadah serta meremehkan pelaksanaanya. Mereka meniadakan berbagai macam ibadah dan hanya melaksanakan ibadah-ibadah yang terbatas pada syiar-syiar tertentu dan sedikit, yang hanya diadakan di masjid-masjid saja. Tidak ada ibadah di rumah, kantor, toko, bidang sosial, politik juga tidak dalam peradilan kasus sengketa dan dalam perkara-perkara kehidupan lainnya. Memang Masjid memiliki keistimewaan dan harus dipergunakan dalam sholat fardlu lima waktu. Akan tetapi ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan baik di masjid maupun di luar masjid.

Golongan Kedua :  yang bersikap berlebih-lebihan dalam praktek ibadah sampai pada batas-batas ekstrim; yang sunnah mereka angkat menjadi wajib sebagaimana yang mubah mereka angkat menjadi haram.

Kemudian Manhaj yang benar dalam melaksanakan ibadah yang disyariatkan adalah sikap pertengahan, tidak meremehkan dan tidak ekstrim serta melampui batas, jadi berdiam sebelum adanya dalil yang memerintahkan atau melarang hal tesebut.

Bagi Seorang Muslim mengikuti sunnah Rasulullah adalah keharusan yang tak bisa di tawar-tawar lagi. Sebab, untuk mengamalkan ajaran Islam yang benar lagi sempurna harus sesuai dengan apa yang telah diwajibkan oleh Allah dan ditentukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat yang mendapat petunjuk.

Umat Islam sepakat untuk memahami Al Quran sebagai pedoman hidup manusia, harus merujuk sunnah Rasulullah SAW., karena Al Qur’an diturunkan disamping yang detil, memuat prinsip-prinsip hidup dan hukum islam yang masih global (perlu tafsir Ulama), sedangkan  Sunnah Rasulullah mengajarkan petunjuk pelaksanaan dan rinciannya. Karena itu bagi orang beriman mengikuti sunnah atau tidak bukanlah suatu “kebebasan memilih” sebab mengamalkan ajaran islam sesuai garis yang telah ditentukan oleh Rasulullah adalah kewajiban yang harus di taati. #### fataqullahu masta tho’tum.

Adil dan Berkeadilan

Al Falakiyah_Bogor.

10/4/2015

Bismillahirrahmahnirrahim

bw0099

Setiap manusia tentulah menginginkan kehidupan selamat dan bahagia. Kehidupan bahagia itu akan ada dan dinikmati seseorang ketika ia hidup dengan adanya rasa aman, tenang, nyaman, serasi dan harmoni dalam hidup dan kehidupannya. Salah satu factor utama yang dapat mewujudkan suasana hidup senang dan bahagia, itulah “Tegaknya Keadilan” dalam kehidupan baik pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.

Apabila keadilan tidak tegak maka suasana hidup dan kehidupan dengan segala tingkatan dan sektornya tentulah akan terganggu, bahkan tidak mustahil kehidupan akan berada pada situasi dan kondisi hancur berantakan. Akan melahirkan suasana galau dan kacau balau, wibawa hukum tidak ada, para aparatur pemerintah pun tidak disegani, penyimpangan-penyimpangan (khususnya korupsi) dengan segala bentuk dan sifatnya terjadi dimana-mana, pembangunan tidak berjalan sebagaimana mestinya, yang kuat semakin kaya dan yang miskin semakin menderita dan sengsara, gilirannya Negara dan bangsa menjadi korban pelecehan Negara dan bangsa lain.

Hakikat Adil

Kata adil berarti : sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak. Adil juga berarti : berpihak kepada yang benar. Dari sisi lain adil juga berarti “tidak bertindak sewenang-wenang”. Keadilan adalah sumber keseimbangan dalam hidup, adil juga sumber kebersamaan, sumber keserasian, sumber keharmonian. Nilai keadilan tidak hanya (berkaitan) dengan hukum positif beserta lembaga/badan serta para personil yang ada di dalamnya, akan tetapi nilai adil menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia dengan apa dan siapapun dalam hidupnya, baik yang berhubungan dengan segala makhluk maupun dengan jalur vertical (hablum minallah).

Pendek kata keberadaan seluruh makhluk termasuk manusia, kesemuanya tidak akan bisa hidup secara baik dan benar kecuali (semuanya) sesuai dengan fitrahnya masing-masing (berdasarkan) ketentuan Allah SWT. Keseimbangan dan keharmonian semua makhluk (termasuk manusia) di dunia ini tidak akan terjadi kecuali bersama nilai-nilai keadilan.

Adil dalam Aqidah

Dalam Islam masalah aqidah/iman ibarat bangunan adalah pondasinya. Sebagai pondasi posisi dan kondisinya harus kokoh. Tahan atau tidaknya seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan, hambatan dan gangguan tergantung pada kadar aqidah/imannya. Seseorang akan tetap pada posisinya (tidak goyah) apabila aqidah/imannya kokoh/kuat, dan sebaliknya, seseorang akan mudah goyah apabila aqidah/imannya lemah. Orang yang mampu bertahan (menang) dialah yang akan selamat dan selalu bersama lindungan dan bimbingan Allah SWT.

Secara fitrah manusia (seseorang) harus bersama aqidah/iman yang kokoh (kuat). Karena aqidah/iman yang kokoh adalah sesuatu yang paling tinggi nilainya di dalam diri seseorang dalam hidupnya. Oleh karena itu masalah aqidah/iman (bagi seorang muslim) adalah sesuatu yang harus dijaga, dibela dan dipertahankan dalam hidup dan kehidupan di dunia ini, yang dengan demikian ia akan selamat dari segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan hidup.

Adil dalam Ibadah

Allah SWT menciptakan seluruh makhluk-Nya dengan sungguh-sungguh dan sempurna. Seluruh ciptaan-Nya diciptakan-Nya dengan cermat, tidak ada yang salah semuanya termasuk manusia sebagai ciptaan-Nya yang paling sempurna, paling mulia dan ditetapkan-Nya sebagai wakil-Nya di muka bumi ini. Oleh karena itu manusia sangat tidak patut melakukan kedurhakaan kepada Allah, dengan kata lain si manusia tidak boleh melakukan ketidakadilan dalam hidupnya. Seharusnya manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dan paling mulia (wajib) menjalani hidup dengan nilai-nilai keadilan antara dirinya dengan Tuhannya. Dengan demikian berarti nilai-nilai keadilan telah mendasari hidup dan kehidupan seseorang itu.

Seorang muslim (dalam hidupnya) dituntut agar memposisikan diri dan kehidupannya dalam rangka ibadah (QS. Addzariyat[51]:56). Ada ibadah mahdhah, itulah shalat, puasa, zakat dan haji; sedangkan ibadah ghairu mahdhah, itulah seluruh aktivitas hidup (selain ibadah mahdhah). Apa saja kegiatan (pekerjaan) seorang muslim haruslah selalu dalam rangka karena Allah. Seseorang (dalam hidup) wajib mengetahui dan menyadari bahwa dirinya tidak pernah lepas dari hak dan kewajiban. Dalam satu sisi ia berhak dari apa dan siapa, namun (pada sisi lain) ia juga berkewajiban memberi/melakukan sesuatu untuk sang pemberi (sesuatu) haknya.

Adil dalam Bermu’amalah

                Dalam bermu’amalah ini manusia muslim dituntut melakukannya dengan Islami. Adanya saling memberi dan menerima. Boleh mengambil/menuntut hak tapi harus melakukan kewajiban. Prinsip ini harus berlangsung secara berimbang dalam seluruh aspek kehidupan dengan kata lain, nilai-nilai keadilan harus selalu ada baik pemberi maupun penerima.

Dalam bermu’amalah, antara sesama teman, antara orangtua dengan anak-anaknya, antara pedagang dan pembeli, antara pemerintah dan rakyat, antara guru dengan murid, antara pimpinan dengan yang dipimpinnya, antara satu dengan yang lain dan seterusnya harus berlangsung dengan adil dan berkeadilan, sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik, lancer dan benar.

Hidup dengan prinsip adil dan berkeadilan adalah sebagai kata kunci untuk mewujudkan kehidupan yang aman, tenang, dan nyaman, harmoni dan serasi. Keberadaan nilai-nilai adil dalam berinteraksi, setiap orang tidak boleh setengah hati, akan tetapi harus berlangsung secara maksimal (total), setiap individu memiliki keimanan baik dan maksimal, berlangsung diseluruh sector kehidupan, baik jalur vertical (hablum minallah) maupun horizontal (hablum minannas).

Fattaqullaha mastatha’tum…

#redaksi_ziednie

bw0017

Anak Sebagai Harapan

Al Falakiyah_Bogor.

10/4/2015

Kehadiran anak ditengah keluarga merupakan kebahagiaan dan menambah rezeki orangtuanya. Setiap lahir anak, dianjurkan Nabi SAW, untuk menyembelih aqiqah, mencukur rambut dan menamainya dengan nama yang baik, sebagai tanda rasa syukur atas rahmat dan rezeki yang tak ternilai harganya.bw0017

Anak sangat penting dalam pandangan Islam, bagi orangtua haruslah mengetahui kedudukan anak bagi orangtuanya yaitu :

  1. Anak sebagai Rahmat.

Salah satu rahmat Allah bagi orangtua adalah rahmat dikaruniai anak : “…dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka sebagai suatu Rahmat dari sisi Kami.” (QS. Al-Anbiya : 84)

  1. Anak sebagai Amanah

Amanah berarti sesuatu yang harus dipertanggung jawabkan nanti di hadapan Allah SWT. Menjadi kewajiban orangtua untuk memelihara, mendidik, membimbing agar menjadi anak sholeh.

  1. Anak sebagai ujian

Segala apa yang di anugerahkan Allah kepada kita merupakan ujian dari-Nya termasuk harta dan anak. “Dan ketahuilah, harta-hartamu dan anak-anakmu itu adalah sebagai ujian (fitnah)” (QS. Al-Anfal : 28)

  1. Anak sebagai penyejuk

Anak sebagai hadir menjadi qurrata’ayun atau penyejuk mata dan hati bagi orangtuanya, yang membuat mereka senang dan gembira. Begitu merasa bangga bahkan kadang berbangga-bangga berkat kehadiran anak di rumahnya.

Namun pesan yang tak boleh diabaikan, (QS. Al-Munafikun : 9) : “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah, siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang yang merugi.”

 

# Redaksi_ziednie

bw0085

Indah Pada Waktunya

Al Falakiyah_Bogor.

10/4/2015

Bismillahirrahmahnirrahimm

Adalah sangat manusiawi, apabila seseorang merasa sangat kecewa seandainya permintaannya kepada sesama manusia tak terkabulkan. Seorang anak biasanya akan menangis bila ibunya tak membolehkannya untuk membeli es atau permen, sementara teman-teman sepermainannya tengah asyik menikmati manisnya permen atau es tersebut.bw0085

Termasuklah juga dalam soal jatuh hatinya seorang pria kepada wanita (atau sebaliknya) yang disukai tetapi tidak mendapat tanggapan. Banyak pria yang sekedar “tebar pesona’ sementara ada wanita yang benar-benar menyukainya, tapi lalu ia bertepuk sebelah tangan. Begitupun seorang jajaka, pun akan merasa kecewa apabila cintanya di tolak oleh seorang gadis dambaanya, padahal ia amatlah yakin dengan modal ketampanan dan mobil yang dikendarainya pasti akan mendapatkan tempat di hati sang gadis.

Pada kenyataanya, justru sebaliknya, kawannya yang datang dengan tampang modal pas-pasan dan berjalan kaki yang menjadi pilihan gadis tersebut.

Tunggu, Ada Masanya

Seorang hamba Allah, yang senantiasa menjalankan perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya, ia sangat berharap Allah akan mengabulkan setiap doa-doanya. Tapi apa hendak dikata ketika ia dihadapkan dengan berbagai persoalan yang tak berkesudahan, hatinya sedih, kecewa dan akan berprasangka buruk kepada Allah.

Wajar apabila bersikap demikian, karena ia manusia yang mempunyai sifat-sifat demikian, bukan malaikat yang semata-mata mengabdi kepada Allah, yang tiada memiliki kehendak lantaran ia tidak ada nafsu. Semakin seseorang mendekatkan diri kepada Allah semakin banyak ia rasakan ujian Allah kepadanya, padahal ia merasa, dulu ketika jauh dari Allah, ia begitu mudah mendapatkan  apa yang ia inginkan. Haruskah ia marah pada Allah ? Sebagai orang yang beriman ia akan menjawab : Tidak. Karena ia paham betul apa makna dari surat Al-Baqarah : 286.

Semua akan indah pada waktunya. Itulah rumusan kehidupan, sepanjang segala sesuatu berjalan sesuai dengan fitrahnya. Ulat bulu bagi banyak orang amatlah menjijikan, akan tetapi pada waktunya ia akan berubah jadi kupu-kupu nan cantik. Kaktus tumbuh kaku nan duri, pada waktunya ia akan berbunga begitu indahnya. Dan bila Allah belum mengabulkan doa-doa kita saat ini, sabar dan yakinlah pasti akan berjawab pada waktunya. Maka ingatlah akan selalu pada kata-kayta bijak “Allah tidak akan memberi apa yang kita harapkan, tetapi Dia memberi apa yang kita peerlukan”.

 

Iblis Senantiasa Menggoda

Apabila kita paparkan berbagai kelakuan dan keadaan manusia sehari-hari sungguh bermacam-macam, ada yang baik dan ada pula yang buruk dan yang menyimpang dari jalan Allah. Apalagi dalam zaman kemajuan yang banyak menawarkan hal-hal menarik, yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan ketentuan Agama. Apalagi iblis yang selalu berusaha menggoda dan mempengaruhi manusia agar mau mengikuti bujukan dah hasutannya untuk mengejar kesenangan duniawi, yang sifatnya sementara. Firman Allah surat Al-Hijr 30-40 : Iblis berkata : Ya Tuhanku oleh karena engkau telah memutuskan, bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka pemandang baik (perbuatan maksiat) dimuka bumi ini, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hambanya yang mukhlis (patuh dan tunduk pada perintah Allah).

Dalam ayat lain (Al-Araf : 16-17), ditunjukan Allah betapa uletnya iblis menggoda manusia, agar mau menyimpang dari perintah Allah : Iblis menjawab : “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi dari depan dari belakang mereka, dari kanan dari kiri mereka , Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”

Ayat tersebut mengingatkan kepada manusia bahwa dorongan untuk bermalas-malas, berkhayal, melakukan hal-hal yang dilarang Allah dan lain bagainya, tidak datang dari diri saja, akan tetapi di dorong oleh setan yang tidak mau berputus asa dalam menggoda manusia. Coba ingat dan bayangkan diri sendiri, ketika kita mulai curiga pada seseorang (antar suami dan isteri), segera iblis mnegambil kesempatan untuk menghasut dan mendorong untuk marah. Boleh jadi awal marah itu sederhana, akan tetapi segera berdatangan pikiran buruk, sehingga menjadi percecokan, yang tidak jarang membawa kepada keretakan rumah tangga. Bahkan disitulah kerap terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seperti banyak kita saksikan beritanya di media massa. Maka berpandai-pandailah menghindar dari jebakan iblis.

Karibkan Diri pada-Nya

Sungguh banyak godaan yang menyeretkan manusia melakukan pelanggaran terhadap larangan agama dan hambatan untuk mematuhi perintah Allah. Hanya keimanan yang kuat dan ketaatan melaksanakan perintah Allah yang dilengkapi dengan mental yang sehat, akan menjadi benteng pertahanan yang terhadap berbagai dorongan yang buruk, baik yang datangnya dari diri sendiri maupun yang disertai bisikan dari iblis.

Oleh sebab itu manusia memerlukan lebih banyak lagi hubungan dengan Allah, untuk meminta perlindungannya, Allah Maha Mengetahui dan Maha Penyayang. Rasulullah SAW memberi petunjuk kepada umat manusia agar shalat sunnah rawatib, shalat tahajud, shalat hajat, shalat istikharah, dhuha, dan shalat-shalat sunnah lainnya. Juga latih diri dengan melakukan puasa sunnah, semisal Senin-Kamis.

Yakinkanlah diri bahwa semua akan indah pada waktunya. Bila Allah belum mengabulkan doa-doa kita saat ini, sabar dan yakinlah pasti akan menjawab pada waktunya. Mari kuatkan dalam ingatan : “Allah tidak akan memberi apa yang kita harapkan, tetapi Dia memberi apa yang kita perlukan.” Fattaqullaha masthata’tum

#redaksi_Ziednie

generasi hamalah

Alfalakiyah-Bogor.

memiliki generasi hamalah? Kalimat dengan penuh tanya bisa jadi berseliweran saat kita membacanya.

ya,,hamalatul qur’an, generasi yang dilahirkan dari proses tempaan panjang dalam siklus pembelajaran.

pembelajaran dari mengenal huruf arab, membaca, menghafal dan kemudian memahami kandungan ayat per ayat dst. Sehingga pada gilirannya terlahir generasi yg khosyi’ien (khusyu) karena ilmu yang di milikinya.

Di tahun ke empat ini, kami mulai berientasi dengan pendirian sekolah setingkat SMA yang menghusukan pembelajarannya dengan memperdalam ilmu yang terkait dengan alQur’an,baik nahwu,shorof,balaghoh,manthiq, bayan dll. Sehingga siswa yang lulus dari lembaga ini, disamping hafal al Quran juga sudah siap dengan tafsirnya.

tentu harapan dan doa dari semua wali santri dan kaum muslimin adalah energi kami untuk melangkah lebih cepat.

#redaksi_ziednie. 28.3.2015.

“Wajib ” Menjadi Renungan Orang Tua

Setidaknya buat wali santri Smp Tahfizh Al Falakiyah
teman2mu unjuk kebolehan yg lain..?” begitu tanya pak Khotimi penasaran…
Begini pak guru…waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak..bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW:”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim)…
“Pak guru..saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak..sebagai seorang anak yg berbakti kpd kedua orangnya..” Semua orang terkesiap dan tdk bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 th tsb… Ditengah suasana hening tsb..tiba2 terdengan teriakan “Allahu Akbar..!!” dari seseorang yg lari dari belakang menuju ke panggung…
Ternyata dia ayah si Umar..yg dengan ter-gopoh2 langsung menubruk sang anak..bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.. ”Ampuun nak.. maafkan ayah yg selama ini tidak pernah memperhatikanmu..tdk pernah mendidikmu dengan ilmu agama..apalagi mengajarimu mengaji…” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya…” Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak…ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat kelak…ayah maluuu nak” ujar sang ayah sambil nangis ter-sedu2…subhanallah…
Sampai disini, saya melihat di layar Sang Khotib mengusap air matanya yg mulai jatuh…semua jama’ahpun terpana..dan juga mulai meneteskan airmatanya..termasuk saya..diantara g g bahkan ada yg tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya…luar biasa haru…
Entah apa yg ada dibenak jama’ah yg menangis itu..mungkin ada yg merasa berdosa karena menelantarkan anaknya..mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kpd anaknya.. mungkin menyesal krn tdk mengajari anaknya mengaji..atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yg hanya tergeletak di rak bukunya..dan semua..dengan alasan sibuk urusan dunia…!!!
Saya sendiri menangis karena merasa lalai dengan urusan akherat..dan lebih sibuk dengan urusan dunia..padahal saya tau kalau kehidupan akherat jauh lebih baik dan kekal dari pada kehidupan dunia yg remeh temeh, sendau gurau dan sangat singkat ini..seperti firman Allah SWT dalam Q.S. Al-An’Amayat 32:”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”…
Astagfirullahal ghofururrohim..hamba mohon ampunan kepada Allah..Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang…
Wallahu ‘alam bissawab.. Semoga bermanfaat..khususnya buat saya pribadi…

#admin_ziednie

Kopas dari Bu Nyai Eva

Terciptanya Bumi

Al Falakiyah_Bogor.

Pada mulanya, tidak ada bumi, langit, matahari dan bulan. Yang ada hanya kegelapan. Bumi sama sekali belum terbentuk. Kemudian, Allah SWT menciptakan dunia yang indah. Dunia diisi oleh makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Allah SWT menciptakan langit dan bumi dalam enam rangkaian masaAllah cukup berkata: ”Jadilah”, maka jadilah bumi dan langit. Kemudian, Allah bersemayam di singgasana-Nya untuk mengatur segala ptaan-Nya.Allah juga menciptakan matahari yang bersinar cemerlang dan bulan yang bercahaya karena menerima pantulan cahaya matahari. Allah pun menciptakan bintang-bintang yang berkerlap-kerlip diangkasa.

Allah menciptakan bumi selama dua hari. Allah berfirman : “Hendaklah tanah kering muncul dari kedalaman air”, maka terciptalah daratan dan lautan dibumi.

Allah menamai tanah kering itu  sebagai daratan dan kumpulan air itu sebagai lautan. Diatas daratan Allah menciptakan jajaran gunung-gunung yang sangat besar. Allah menciptakan gunung sebagai penyeimbang dan pengaman bumi.

Selama enam hari Allah membentuk langit ke dalam tujuh lapisan. Dilapisan terendah Allah menciptakan gugusan bintang-bintang yang berkerlap-kerlip. Allah juga mencipata-kan bintang berekor diantara bintang-bin-tang tersebut. Allah juga mengisi alam se-mesta ini dengan jutaan planet yang mela-yang-layang diangkasa. Allah pun membuat bumi mengelilingi matahari sehingga ter-jadilah pergantian siang dan malam. Kejadian bumi mengelilingi matahari pada porosnya juga mendatangkan bebagai macam musim dibumi dan menandai hari serta pergantian tahun. Semua benda ang-kasa yang Allah ciptakan telah diatur tem-patnya sehingga tidak saling bertabrakan. Kemudian Allah menciptakan makhluk-makhluk hidup yang bergerak. Lalu Allah meniupkan angin yang dapat menghidupkan bibit-bibit tumbuhan. Allah juga menciptakan awan yang berasal dari uap yang diterbang-kan angin, kemudian dapat turun sebagai hujan yang menghidupkan tumbuh-tumbuh-an. Allah menumbuhkan berbagai macam tanaman termasuk bunga-bunga yang cantik seperti mawar, aster dan tanaman hias lainnya. Allah menciptakan makhluk yang besar dan makhluk yang kecil.

Serangga mungil, semut hitam yang merayap ditanah, lebah yang terbang mengitari bunga untuk mengumpulkan madu, semuanya ciptaan Allah yang begitu indah. Allah juga menumbuhkan buah-buahan yang dapat dimanfaatkan. Allah menciptakan mangga,  jeruk, anggur, ceri, semangka, nanas dan masih banyak lagi.

#ZIednie