Category Archives: Pengasuh Pesantren

Tujuh Kalimat Mustajab

Alfalakiyah_Bogor 25.4.15

Tulisan ini di muat di HU Republika dalam rubrik hikmah.23.4.15

Semua orang mendambakan kebahagiaan. Akan tetapi, memaknai sebuah kebahagiaan bisa berbeda antara satu dan yang lainnya. Bagi kaum materialis, bahagia adalah jika sudah terpenuhinya segala kebutuhan fisik. Hanya, kebutuhan fisik tidak akan pernah ada batasannya.

H.Khotimi Bahri dan Kyai Tb. Asep ZUlfiqor (pengasuh PP Hamalatul Quran Al Falakiyah-Bogor)

H.Khotimi Bahri dan Kyai Tb. Asep ZUlfiqor (pengasuh PP Hamalatul Quran Al Falakiyah-Bogor)

Dalam agama Islam, kebahagiaan (as-sa’adah) adalah selerasnya keinginan hamba dengan taufik Allah SWT. Kebahagiaan ini akan terasa tidak hanya ketika masih hidup di dunia, tetapi juga akan terus berlanjut hingga kehidupan di akhirat kelak.

Ada tujuh kalimat yang sangat mulia di sisi Allah beserta para malaikat, sekaligus menempatkan orang yang istiqamah mengamalkannya, mendapatkan ampunan Allah SWT. Inilah sebenarnya kebahagiaan yang hakiki yang dicari setiap hamba Allah SWT.

Pertama, membaca basmalah (bismillah) ketika akan memulai segala sesuatu. Dengan membaca basmalah, berarti seorang hamba menyertakan permohonan keberkahan dan limpahan rahmat Allah dalam pekerjaannya. Kedua, membaca hamdalah (alhamdulillah) ketika selesai mengerjakan sesuatu. Hamdalah adalah kalimat pujian seorang hamba atas kemudahan dan kemurahan Allah yang menyertai pekerjaannya.

Ketiga, membaca istighfar (astaghfirullah) jika terucap kata yang tidak patut. Perkataan kotor, nista, dan mengandung unsur nifak merupakan hal yang tercela, karenanya Islam sangat mengecam perilaku ini. Demikian juga tindakan-tindakan yang menyalahi norma agama. Maka sepatutnya bagi pelakunya untuk memohon ampunan Allah SWT. Keempat, mengucapkan “insya Allah” ketika ingin berbuat sesuatu. Rasulullah Muhammad SAW pernah diingatkan oleh Allah agar mengucapkan kalimat tersebut jika menjanjikan sesuatu. Ini terkait dengan janji Beliau untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kaum Quraisy.

Kelima, mengucapkan “la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyil adzim” jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya. Kalimat ini sekaligus menegaskan kemahakuasaan Allah dan menunjukkan kelemahan hamba di hadapan-Nya. Keenam, mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un” jika sedang tertipa musibah. Kalimat yang dikenal dengan sebutan istirja’ ini menunjukkan sikap tawakal sang hamba. Dan tawakal merupakan salah satu sifat yang diperintahkan dalam Islam.

Ketujuh, membaca “La Ilaha Illallahu, Muhammadur Rosulullah” sepanjang hari, petang dan malam. Kalimat persaksian ini merupakan akar sekaligus password bagi setiap kaum Muslimin. Dengan kalimat ini seorang hamba bisa langsung mengikatkan ruhaninya dengan Sang Pencipta segala sesuatu. Kalimat yang jika dibaca di akhir hayat seseorang akan menjadi penjamin surga sekaligus pembuka pintu surga di akhirat kelak. Wallahu a’lam bishawab.

Oleh H A Khotimi Bahri

#redaksi,ziednie

Wejangan dari Umi untuk santri

Benteng Kokoh PP Hamalatul Qur’an Al Falakiyah

Al Falakiyah_Bogor. 16/3/2015.

Thoyyibah Muslim. adalah sosok central dalam lembaga ini, Beliau adalah Pengasuh Utama.

Wanita yang biasa disapa “UMI” oleh para santri dan kerabat. Wanita kelahiran tangerang ini bergelut dengan Al Qur’an sebagai jalan hidupnya sudah dimulai dari remaja. berbagai ajang lomba sudah pernah beliau ikuti. dari tingkat kota hingga nasional. berbagai juara pernah beliau raih.

Wejangan dari Umi untuk santri

Wejangan dari Umi untuk santri

Wanita yang kemudian di persunting oleh TB Asep Zulfiqor salah satu dzurriyah dari Ulama Besar di  Kota Bogor, KH. TB Falak Abas sebagai istri, kemudian memiliki putra-putri delapan orang. Yang  pertama hingga ke tiga semua belajar mengikuti jejak Ibundanya sebagai Hafidz Hafidzoh dengan mondok di Kendal, Semarang dan Kudus.

Sejak 2012, beliau adalah motor dari lahirnya santri-santri penghafal al Qur’an dengan menjadi pengasuh Utama di PP Hamalatul Qur’an.

Seemoga Selalu sehat dan panjang umur, Mik!

#redaksi