ITTIBA’UR RASUL

Al Falakiyah_Bogor

12/4/2015

By ziednie Wafiq


“Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap tiap umat (untuk menyerukan ):

”sembahlah allah (saja) dan jauhilah Thaghut”.(QS.AN NAHL (16):36).

bw0090

Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Di dalam syara’ ibadah, mempunyai banyak definisi, terapi makna dan maksudnya satu .Definisi itu antara lain:

  1. Ibadah ialah saat kepada Allah dengan melaksanakan perintahnya melalui lisan para Rasul Nya.
  2. Ibadah adalah merendahkan diri pada Allah swt yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai rasa mahabbah  (kecintaan)yang paling tinggi.
  3. Ibadah ialah sebutan yang mencakub seluruh apa yang dicintai dan diridhoi Allah Baik ucapan atau perbuatan yang zhahir maupun yang batin. ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap.

Syarat ibadah

            Para ulama menyebutkan tentang syarat ibadah yaitu;

  1. ikhlas yakni menunjukkan ibadah hanya kepada Allah swt.”Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dg memurnikan ketaatan kepadanya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat: dan yang demikian itulah agama yang lurus”.(QS.98:5).
  2. ITTIBAUR RASUL ( mengikuti rasul).

Pada pembahasan ini akan dijelaskan seputar penjelasan syarat kedua ittibaur rasul. syarat ini merupakan landasan dan patokan utama diterimanya ibadah.

Rosulullah saw pernah menegaskan kepada kita di dalam hadisnya bahwa: “barang siapa yang melakukan sebuah amal perbuatan yang tidak ada contoh dari kami maka itu tertola”k.(HR.bukhori muslim).

Perlu diketahui bahwa ittibaur rasul (mengikuti rasul) tidak akan dicapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syariat dalam 6 perkara.

         PERTAMA: Sebab

            Jika orang melakukan suatu ibadah karena Allah swt dengan sebab yang tidak di syariatkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima (ditolak) misal saja ketika ada orang yang melakukan shalat tahajjud pada malam dua puluh tujuh bulan rajab dengan dalih bahwa malam itu adalah malam Mi’roj Rosulullah ( dinaikkan keatas langit ). Shalat tahajud adalah ibadah tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut menjadi bid’ah. karena ibadah jika didasarkan atas sebab yang tidak ditetapkan dalam syariat. syarat ini, yaitu ibadah harus disesuaikan dengan syariat dalam sebab adalah penting, karena dengan demikian dapat diketahui beberapa jenis ritual yang dianggap termasuk sunah, namun sebenarnya  adalah bid’ah.

Kedua; Jenis

Maksudnya ialah ibadah harus sesuai dengan syariat dalam jenisnya. Jika tidak, maka tidak diterima contoh, seorang yang menyembelih kuda untuk kurban  adalah tidak sah, karena menyalahi ketentuan syariat dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan kurban yaitu,  unta,sapi, lembu dan kambing.

Ketiga; Kadar(bilangan)

Kalau seseorang yang menambah bilangan rekaat suatu sholat yang menurutnya hal itu diperintahkan maka, sholat tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima, karena tidak sesuai dengan syariat (bilangan rekaatnya). Jadi, apabila ada orang  sholat dhuhur lima rekaat umpamanya maka sholatnya tidak sah.

Keempat; Kaifiyah (cara)

Seandainya ada orang yang berwudlu dengan cara membasuh lengan tangan sebelum muka, maka tidak sah wudlunya. Karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan oleh syariat.

Kelima: Waktu

Apabila ada orang yang menyembelih binatang kurban pada hari pertama pada bulan Dzulhijjah, maka tidak sah karena waktu pelaksanaannya tidak menurut ajaran Islam.

Adapula yang bertaqorrub kepada Allah pada bulan Romadlon dengan menyembelih kambing. Amal seperti ini adalah bid’ah, karena tidak ada sembelihan yang ditujukan untuk bertaqorrub kepada Allah SWT kecuali sebagai kurban, denda haji dan aqiqah. Adapun menyembelih pada bulan Romadlon dengan i’tikad menambah pahala atas sembelihan tersebut sebagaimana dalam idul adha adalah bid’ah. Kalau menyembelih hanya untuk memakan dagingnya dengan niat shodaqoh  maka tidak mengapa.

Keenam: Tempat

Andaikata ada orang yang berI’tikaf selain masjid maka tidak sah i’tikafnya. Sebab tempat i’tikaf hanyalah dimasjid. Begitu pula andaikata ada seorang a hendak beri’tikaf di dalam musholla di dalam rumahnya, maka tidak sah i’tikafnya. Karena tempat melakukannya tidak sesuai dengan ketentuan syariat. Contoh lainnya; seorang yang melakukan thowaf di luar Masjidil Hrarom dengan alasan karena  tempat melakukan thowaf adalah dalam baitullah tesebut. Sebagaimana firman Allah :

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud”.( Qs. Al hajj :22,26).

Ibadaha adalah perkara taufiqiyyah artinya tidak suatu bentuk ibadahpun yang di syariatkan kecuali berdasarkan Al Quran dan hadits. Apa yang tidak disyariatkan berarti ditolak dan tidak diterima. Bahkan ia berdosa sebab amal tersbut adalah maksiat bukan taat.

Ada dua Golongan yang salingbertentangan dalam soal ibadah :

Golongan pertama :  yang mengurangi makna ibadah serta meremehkan pelaksanaanya. Mereka meniadakan berbagai macam ibadah dan hanya melaksanakan ibadah-ibadah yang terbatas pada syiar-syiar tertentu dan sedikit, yang hanya diadakan di masjid-masjid saja. Tidak ada ibadah di rumah, kantor, toko, bidang sosial, politik juga tidak dalam peradilan kasus sengketa dan dalam perkara-perkara kehidupan lainnya. Memang Masjid memiliki keistimewaan dan harus dipergunakan dalam sholat fardlu lima waktu. Akan tetapi ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan baik di masjid maupun di luar masjid.

Golongan Kedua :  yang bersikap berlebih-lebihan dalam praktek ibadah sampai pada batas-batas ekstrim; yang sunnah mereka angkat menjadi wajib sebagaimana yang mubah mereka angkat menjadi haram.

Kemudian Manhaj yang benar dalam melaksanakan ibadah yang disyariatkan adalah sikap pertengahan, tidak meremehkan dan tidak ekstrim serta melampui batas, jadi berdiam sebelum adanya dalil yang memerintahkan atau melarang hal tesebut.

Bagi Seorang Muslim mengikuti sunnah Rasulullah adalah keharusan yang tak bisa di tawar-tawar lagi. Sebab, untuk mengamalkan ajaran Islam yang benar lagi sempurna harus sesuai dengan apa yang telah diwajibkan oleh Allah dan ditentukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat yang mendapat petunjuk.

Umat Islam sepakat untuk memahami Al Quran sebagai pedoman hidup manusia, harus merujuk sunnah Rasulullah SAW., karena Al Qur’an diturunkan disamping yang detil, memuat prinsip-prinsip hidup dan hukum islam yang masih global (perlu tafsir Ulama), sedangkan  Sunnah Rasulullah mengajarkan petunjuk pelaksanaan dan rinciannya. Karena itu bagi orang beriman mengikuti sunnah atau tidak bukanlah suatu “kebebasan memilih” sebab mengamalkan ajaran islam sesuai garis yang telah ditentukan oleh Rasulullah adalah kewajiban yang harus di taati. #### fataqullahu masta tho’tum.

0saves
If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>