Keutamaan Membaca dan Mengamalkan AL Quran

Keutamaan Membaca dan Mengamalkan AL Quran

“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya\\\" More »

Enam Syarat Mencari Ilmu

Enam Syarat Mencari Ilmu

Menuju satu harapan dibutuhkan berbagai cara yang dijalani dengan sungguh-sungguh. Begitupun dalam mencari ilmu, tidak sedikit syarat yang harus dipenuhi untuk hasil sebuah ilmu yang bermanfaat dan barokah. More »

Mengenal Kitab Ta\'lim Muta\'allim

Mengenal Kitab Ta\'lim Muta\'allim

Kitab Ta’limul Muta’allim adalah salah satu Kitab klasik yang dikarang oleh Syeh Al-Zarnuji kurang lebih pada abad VI Hijriyah. Apa isi kitab tersebut dan seperti apa profil penyusunnya? More »

Talaqqi Dalam Mengaji Ilmu Agama

Talaqqi Dalam Mengaji Ilmu Agama

Untuk memahami sebuah ilmu kita harus mengaji. Untuk ilmu agama, apalagi dalam memahami cara membaca Al Qur’an harus melalui talaqqi. Apa itu talaqqi? More »

Adab Membaca Al Qur\'an

Adab Membaca Al Qur\'an

Membaca Al-Qur’an tentu memiliki adab. Karena yang dibaca adalah kalamullah (firman Allah), bukan koran, bukan perkataan makhluk. Apa saja adab membaca Al Qur\'an? More »

 

Hafal Al Qur’an,Satu Tahun Dua Bulan?!

1.1.2014

“Al Qur’an diturunkan untuk dipelajari untuk siapa saja, termasuk yang menghafalkan. Tidak  hanya untuk kalangan yang memiliki kecerdasa tinggi.” Ujar Kyai Asep, Pengasuh Pesantren Tahfdz Qur’an Al Falakiyah.

Kalimat itu muncul untuk memberikan keyakinan kepada orang tua yang akan mendaftarkan putra-putrinya untuk bersekolah di Sekolah Menengah pertama (SMP) Tahfidz Qur’an Al Falakiyah, sekolah dimana beliau dirikan husus dengan program hafalan 30 Juz Al Qur’an.

Dan Siapa nyana ucapan beliau bulan lalu menjadi kenyataan dengan telah berhasil membimibing sanrinya hatam menghafal Al Qur’an 30 Juz pada bulan November 2013 lalu.

Adalah Siti Rahma, anak yatim dari  Cisarua yang telah berhasil menghatamkan hafalan 30 Juz dalam tempo tidak lebih dari satu tahun dua bulan. Tidak hanya itu Rahma juga telah berhasil menghafalkan  hadits lebih  dari separo 200 an Hadits. Atas prestasi ini, bulan Januari ini ibunda Siti Rahmah Insyaallah  akan diberangkatkan Umroh bersama dua orang pengasuh, Kyai Asep Zulfiqor dan Umi Thoyyibah serta satu orang wali santri yang telah menghafalkan lebih dari enam belas Juz yaitu, ibunda dari Alwi Husaini yang berasal dari Bekasi.

“Ini adalah Berkah Al Qur’an”. Ujar Umi Thoyyibah, salah seorang pengasuh Pesantren, yang juga sekaligus  istri dari Kyai Asep Zulfiqor.

SELAMAT YA, UMI, ABI!!!  DOAKAN kami juga untuk segera ikut menyusul ziarah ke ke Mekkah.

Diskusi tentang pendidikan berkarakter sesuai budaya bangsa,bersama awak redaksi HU Republika, Jakarta 20/4/2015

Alfalakiyah_Bogor. 24.4.15

Pendidikan yang baik disamping harus dengan metode yang unggul juga harus berada dalam lingkungan yang hebat.

Diskusi tentang pendidikan berkarakter sesuai budaya bangsa,bersama awak redaksi HU Republika, Jakarta 20/4/2015

Diskusi tentang pendidikan berkarakter sesuai budaya bangsa,bersama awak redaksi HU Republika, Jakarta 20/4/2015

Santriwati Lebih Mudah Menghafal Hadis

Senin, 20 April 2015, 19:01 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengasuh Pondok Pesantren SMP Tahfiz Qur’an Al-Falakiyah Ustaz TB Asep Zulfiqor mengakui santriwati lebih mudah menghafal hadis dibandingkan dengan santri laki-laki.IMG_0075

“Santriwati justru lebih mudah menghafal hadis, karena ketika mens dia tidak membaca Alquran tapi digunakan untuk mendengarkan dan menghafal hadis,” papar Asep saat berkunjung ke kantor Republika, Senin (20/4).

Ustaz Asep menjelaskan santriwati yang ada di pesantren Tahfiz Qur’an Al-Falakiyah cerdik dalam menyiasati kondisi. Ketika datang waktu mestruasi dilarang membaca dan menyentuh Alquran digunakan waktu tersebut untuk menghafalkan hadis.

Menurut dia, pada masa datang bulan bahkan santriwati bisa menghafal 60 sampai 90 hadis. Salah satu santriwati yang sudah menginjak tahun kedua di pesantern Al Falakiyah, Inas Taqiyatul Husna mengakui hal tersebut. “Iya, waktu tidak boleh membaca Alquran (mentruasi) kami gunakan untuk menghafal hadis,” kata Inas.

Selain Inas, santriwati lainnya, Siti Rahmah juga mengungkapkan hal serupa. Menurut Siti Rahmah, untuk mengisi kekosongan hafalan Alquran, dia manfaatkan waktu untuk meghafal hadis.

Ustaz Asep mengatakan di Pondok Pesantren SMP Tahfiz Qur’an Al-Falakiyah diajarkan beragam hadis. Di tahun pertama diajarkan tentang hadis akhlak, tahun kedua hadis akidah, dan tahun ketiga tentang berbagai macam hadis yang berkaitan dengan hukum-hukum syariat.

#ziednie

Mengajar Hafalan Alquran Tidak Transaksional

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/04/20/nn3rwm-mengajar-hafalan-alquran-tidak-transaksional
Senin, 20 April 2015, 18:29 WIB

IMG_0024

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Keikhlasan dalam mengajar dan membimbing santri dalam meghafal Alqur’an merupakan faktor yang mendukung guna mendapatakan keberkahan hafalan.
Seorang ustaz akan mudah mendapatkan keberkahan dalam mengajar jika dibarengi dengan keikhlasan dalam menjalankan pekerjaan mulia tersebut.

“Kita mendidik agar para pengajar tidak transaksional dalam mengajar, supaya berkah,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren SMP Tahfiz Qur’an Al-Falakiyah Ustaz TB Asep Zulfiqor saat berkunjung ke kantor Republika, Senin (20/4).

Dia menjelaskan SMP Tahfiz Qur’an Al Falakiyah meskipun mengajarkan siswa didik menghafal Alqur’an tapi dia mengakui tidak menjual jasa. Karena mengajarkan Alquran adalah amal saleh seperti halnya menebarkan ilmu-ilmu Allah.
“Kami mengajarkan pada guru-guru agar merasa mulia karena mengabdi, balasannya adalah keberkahan,” ungkap Asep menjelaskan.

Meski demikian dia juga menerapkan standarisasi guru, agar guru-guru yang mengajar juga memiliki kualitas yang unggul.
Menurutnya mayorita guru-guru pengajar adalah lulusan S2, hanya beberapa saja yang baru lulus S1. “Kalau helem aja ada standarnya masa ustaz mengajar Alquran tidak ada standarnya,” Jelasnya.

Perbuatan Dosa Mengganggu Hafalan Alquran

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/04/20/nn3q2d-perbuatan-dosa-mengganggu-hafalan-alquran

Senin, 20 April 2015, 17:49 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengasuh Pondok Pesantren SMP Tahfiz Qur’an Al-Falakiyah Ustaz TB Asep Zulfiqor menjelaskan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung siswa menghafal Alquran harus menghindari kegitan-kegiatan yang dapat mepersulit siswa didik dalam menghafal Alquran.

“Jangan ada hal-hal yang mengganggu dalam menghafal Alquran, hindari hal-hal yang merusak hafalan Alquran,” ungkap Ustaz Asep saat kunjunganya ke kantor Republika, Senin (20/4).

Menurutnya, kegitan yang negatif yang mengarah pada dosa akan mempersulit hafalan Alquran. Dia menjelaskan dalam menciptakan lingkungan yang mempermudah siswa didik untuk menghafal Alquran, sedemikin mungkin dia mengarahkan kegiatan-kegiatan yang positif untuk santriwan dan santriwati. Mulai dari akhlak, kesucian beribadah, sampai dengan akidah.

Ustaz Asep juga mengatakan kegitan dalam pesantren sangat padat, baik itu kegitan menghafal Alquran dan hadis dan juga kegitan belajar pelajaran umum seperti halnya SMP pada umumnya.

SMP Tahfiz Al Falaqiyah bertujuan menjadi lembaga Tahfiz Quran yang membentuk pribadi hamalatul Quran (menjadikan Quran dalam kehidupan). Selain itu juga bertujuan membentuk siswa yang berkarakter akhlakul karimah atau berbudi pekerti mulia dan berwawasan kebangsaan.

bw0110

Anak Sholeh yang Mendoakannya

Al Falakiyah_Bogor.

13/4/2015

Jika kita punya anak shalih yang mendoakan kita, Insya Allah kita akan mendapat pahala juga karena kita telah berjasa mendidik mereka sehingga jadi anak yang shaleh. Oleh karena itu jika kita diamanahi anak oleh Allah, hendaknya kita didik mereka sebaik mungkin hingga jadi anak yang shaleh. Seorang ibu jangan ragu untuk meninggalkan pekerjaanya di kantor agar bisa focus mendidik anaknya.bw0110

Lalu bagaimana jika kita tidak punya anak kandung ? Di situ tidak dijelaskan apa anak shaleh itu anak kandung atau bukan. Jadi jika memelihara anak yatim piatu pun kita tetap akan mendapat pahala jika mereka jadi anak shaleh dan mendoakan kita.

Dari Abu Ummah, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa yang membelai kepala anak yatim piatu karena Allah SWT, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang diusap. Dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan laki-laki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah saw mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.” ( H.R Ahmad)

Dari situ jelas bahwa orang yang memelihara anak yatim dengan penuh kasih saying Insya Allah akan masuk surga. Surganya pun bukan surga tingkat rendah. Tapi surga tingkat tinggi karena berada di dekat nabi Muhammad saw laksana jari telunjuk dengan jari tengah.

Paling tidak jika ada anak dari saudara kita atau sepupu kita, santunin mereka. Bantu mereka. Menyumbang ke keluarga karena miskin yang ada anaknya ataupun panti asuhan Insya Allah bisa mendapatkan pahala. Wallahualam bishowab.

-Mutiara Hadits-

#redaksi

ITTIBA’UR RASUL

Al Falakiyah_Bogor

12/4/2015

By ziednie Wafiq


“Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap tiap umat (untuk menyerukan ):

”sembahlah allah (saja) dan jauhilah Thaghut”.(QS.AN NAHL (16):36).

bw0090

Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Di dalam syara’ ibadah, mempunyai banyak definisi, terapi makna dan maksudnya satu .Definisi itu antara lain:

  1. Ibadah ialah saat kepada Allah dengan melaksanakan perintahnya melalui lisan para Rasul Nya.
  2. Ibadah adalah merendahkan diri pada Allah swt yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai rasa mahabbah  (kecintaan)yang paling tinggi.
  3. Ibadah ialah sebutan yang mencakub seluruh apa yang dicintai dan diridhoi Allah Baik ucapan atau perbuatan yang zhahir maupun yang batin. ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap.

Syarat ibadah

            Para ulama menyebutkan tentang syarat ibadah yaitu;

  1. ikhlas yakni menunjukkan ibadah hanya kepada Allah swt.”Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dg memurnikan ketaatan kepadanya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat: dan yang demikian itulah agama yang lurus”.(QS.98:5).
  2. ITTIBAUR RASUL ( mengikuti rasul).

Pada pembahasan ini akan dijelaskan seputar penjelasan syarat kedua ittibaur rasul. syarat ini merupakan landasan dan patokan utama diterimanya ibadah.

Rosulullah saw pernah menegaskan kepada kita di dalam hadisnya bahwa: “barang siapa yang melakukan sebuah amal perbuatan yang tidak ada contoh dari kami maka itu tertola”k.(HR.bukhori muslim).

Perlu diketahui bahwa ittibaur rasul (mengikuti rasul) tidak akan dicapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syariat dalam 6 perkara.

         PERTAMA: Sebab

            Jika orang melakukan suatu ibadah karena Allah swt dengan sebab yang tidak di syariatkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima (ditolak) misal saja ketika ada orang yang melakukan shalat tahajjud pada malam dua puluh tujuh bulan rajab dengan dalih bahwa malam itu adalah malam Mi’roj Rosulullah ( dinaikkan keatas langit ). Shalat tahajud adalah ibadah tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut menjadi bid’ah. karena ibadah jika didasarkan atas sebab yang tidak ditetapkan dalam syariat. syarat ini, yaitu ibadah harus disesuaikan dengan syariat dalam sebab adalah penting, karena dengan demikian dapat diketahui beberapa jenis ritual yang dianggap termasuk sunah, namun sebenarnya  adalah bid’ah.

Kedua; Jenis

Maksudnya ialah ibadah harus sesuai dengan syariat dalam jenisnya. Jika tidak, maka tidak diterima contoh, seorang yang menyembelih kuda untuk kurban  adalah tidak sah, karena menyalahi ketentuan syariat dalam jenisnya. Yang boleh dijadikan kurban yaitu,  unta,sapi, lembu dan kambing.

Ketiga; Kadar(bilangan)

Kalau seseorang yang menambah bilangan rekaat suatu sholat yang menurutnya hal itu diperintahkan maka, sholat tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima, karena tidak sesuai dengan syariat (bilangan rekaatnya). Jadi, apabila ada orang  sholat dhuhur lima rekaat umpamanya maka sholatnya tidak sah.

Keempat; Kaifiyah (cara)

Seandainya ada orang yang berwudlu dengan cara membasuh lengan tangan sebelum muka, maka tidak sah wudlunya. Karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan oleh syariat.

Kelima: Waktu

Apabila ada orang yang menyembelih binatang kurban pada hari pertama pada bulan Dzulhijjah, maka tidak sah karena waktu pelaksanaannya tidak menurut ajaran Islam.

Adapula yang bertaqorrub kepada Allah pada bulan Romadlon dengan menyembelih kambing. Amal seperti ini adalah bid’ah, karena tidak ada sembelihan yang ditujukan untuk bertaqorrub kepada Allah SWT kecuali sebagai kurban, denda haji dan aqiqah. Adapun menyembelih pada bulan Romadlon dengan i’tikad menambah pahala atas sembelihan tersebut sebagaimana dalam idul adha adalah bid’ah. Kalau menyembelih hanya untuk memakan dagingnya dengan niat shodaqoh  maka tidak mengapa.

Keenam: Tempat

Andaikata ada orang yang berI’tikaf selain masjid maka tidak sah i’tikafnya. Sebab tempat i’tikaf hanyalah dimasjid. Begitu pula andaikata ada seorang a hendak beri’tikaf di dalam musholla di dalam rumahnya, maka tidak sah i’tikafnya. Karena tempat melakukannya tidak sesuai dengan ketentuan syariat. Contoh lainnya; seorang yang melakukan thowaf di luar Masjidil Hrarom dengan alasan karena  tempat melakukan thowaf adalah dalam baitullah tesebut. Sebagaimana firman Allah :

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud”.( Qs. Al hajj :22,26).

Ibadaha adalah perkara taufiqiyyah artinya tidak suatu bentuk ibadahpun yang di syariatkan kecuali berdasarkan Al Quran dan hadits. Apa yang tidak disyariatkan berarti ditolak dan tidak diterima. Bahkan ia berdosa sebab amal tersbut adalah maksiat bukan taat.

Ada dua Golongan yang salingbertentangan dalam soal ibadah :

Golongan pertama :  yang mengurangi makna ibadah serta meremehkan pelaksanaanya. Mereka meniadakan berbagai macam ibadah dan hanya melaksanakan ibadah-ibadah yang terbatas pada syiar-syiar tertentu dan sedikit, yang hanya diadakan di masjid-masjid saja. Tidak ada ibadah di rumah, kantor, toko, bidang sosial, politik juga tidak dalam peradilan kasus sengketa dan dalam perkara-perkara kehidupan lainnya. Memang Masjid memiliki keistimewaan dan harus dipergunakan dalam sholat fardlu lima waktu. Akan tetapi ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan baik di masjid maupun di luar masjid.

Golongan Kedua :  yang bersikap berlebih-lebihan dalam praktek ibadah sampai pada batas-batas ekstrim; yang sunnah mereka angkat menjadi wajib sebagaimana yang mubah mereka angkat menjadi haram.

Kemudian Manhaj yang benar dalam melaksanakan ibadah yang disyariatkan adalah sikap pertengahan, tidak meremehkan dan tidak ekstrim serta melampui batas, jadi berdiam sebelum adanya dalil yang memerintahkan atau melarang hal tesebut.

Bagi Seorang Muslim mengikuti sunnah Rasulullah adalah keharusan yang tak bisa di tawar-tawar lagi. Sebab, untuk mengamalkan ajaran Islam yang benar lagi sempurna harus sesuai dengan apa yang telah diwajibkan oleh Allah dan ditentukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat yang mendapat petunjuk.

Umat Islam sepakat untuk memahami Al Quran sebagai pedoman hidup manusia, harus merujuk sunnah Rasulullah SAW., karena Al Qur’an diturunkan disamping yang detil, memuat prinsip-prinsip hidup dan hukum islam yang masih global (perlu tafsir Ulama), sedangkan  Sunnah Rasulullah mengajarkan petunjuk pelaksanaan dan rinciannya. Karena itu bagi orang beriman mengikuti sunnah atau tidak bukanlah suatu “kebebasan memilih” sebab mengamalkan ajaran islam sesuai garis yang telah ditentukan oleh Rasulullah adalah kewajiban yang harus di taati. #### fataqullahu masta tho’tum.

bw0015

3 Amal yang Pahalanya Tidak Terputus

Alfalakiyah_Bogor.

10/5/2015

 

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalanya kecuali tiga perkara yaitu : sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan doa anak shaleh” (HR. Muslim no.1631)

Allah member ganjaran sekecil apapun amal yang kita perbuat. Meski hanya sebesar dzarrah atau debu : “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar” (An-Nisa : 40)bw0015

Setiap kebaikan yang kita lakukan mulai dari kewajiban seperti shalat, puasa, zakat hingga amal yang sunnah Insya Allah akan dibalas Allah pahala yang berlipat ganda.

Bahkan ada orang yang karena mampu setiap tahun pergi berhaji atau umrah dengan harapan mendapat pahala yang besar. Sesungguhmya itu baik. Namun sayangnya saat kita meninggal, kita tidak aka mendapat pahala itu lagi. Saat kita mati, terputus amal kita selain 3 amal yang di atas.

Oleh Karena itu agar pahala kita terus mengalir meski kita telah tiada, hendaknya kita berusaha mengerjakan 3 amal yang di atas. Bagaimana pun kita tidak tahu berapa banyak dosa atau maksiat yang telah kita perbuat. Berapa banyak orang yang kita sakiti. Jadi kalau pahalanya pas-pasan, bisa jadi akhirnya kita terjembab ke neraka jahannam.

Sedekah Jariyah

Menurut Imam Al-Suyuti (911 H) ada 10 amal yang pahalanya terus menerus mengalir, yaitu 1)ilmu yang bermanfaat, 2) doa anak shaleh, 3) sedekah jariyah (waqaf), 4) menanam pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan, 5) mewaqafkan buku, kitab atau Al-Qur’an, 6) berjuang dan membela tanah air, 7) membuat sumur, membuat irigasi, 9) membangun tempat penginapan bagi para musafir, 10) membangun tempat ibadah dan belajar.

Itu hanya contoh kecil saja. Tentu saja sedekah jariyah tidak terbatas pada hal yang di atas. Segala hal yang bermanfaat yang bisa dinikmati masyarakat umum seperti membangun jalan, jembatan, website atau Tv yang bermanfaat INSYA Allah pahalanya akan terus mengalir kepada kita selama yang kita bangun itu masih memberikan manfaat.

Menanam pohon mangga atau pohon kurma sehingga buahnya bisa dinikmati atau pun pohon yang rindang seperti pohon beringin sehingga orang bisa berteduh pun mendapatkan pahala. Membangun mesjidpun pahalanya amat besar dan tetap akan mengalir selama masih ada orang yang memakainya untuk beribadah.

Hadits riwayat Usman bin Affan r.a : “Barang siapa yang membangun sebuah mesjid karena mengharap keridhaan Allah SWT, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga.” (H.R Bukhari dan Muslim)

Ilmu yang Bermanfaat

Ilmu akan bermanfaat jika kita sendiri terlebih dahulu mengamalkannya. Kemudian kita ajarkan ke orang lain. Jika orang yang kita ajarkan itu juga mengamalkan ilmunya, Insya Allah kita akan mendapat pahala meski kita telah tiada.

Kita bisa menjadi guru, dosen, atau mendirikan sekolah/pesantren sehingga ilmu yang bermanfaat bisa diajarkan ke orang banyak. Di zaman sekarang ini kita bisa mengajarkan ilmu ke banyak orang sekaligus. Dengan membuat buku yang bermanfaat, kita dapat membayangkan bagaimana kalau ada 1 juta orang yang membaca buku tersebut dan mengamalkannya.

Dengan membuat website yang berisi ilmu yang bermanfaat misalnya website Islam sehingga puluhan ribu orang bisa membaca dan mengamalkan ilmunya, Insya Allah  juga akan mendapatkan pahala. Jika ada orang yang meng-copy paste tulisan anda, jangan sedih. Justru mereka membantu menyebarkan ilmu anda sehingga jika website anda tutup karena anda tidak membayar sewa domain atau hosting, ilmu anda tetap tersebar dan dinikmati orang lain.

Mendirikan Tv Islam atau Tv Komunitas yang bisa memberikan ilmu yang bermanfaatpun Insya Allah akan mendapat pahala.

“…Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertawakkalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maaidah : 2)

Dari Abu Musa Al-Asy’ari r.a dari Nabi Muhammad saw bersabda : “Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Kemudian Nabi Muhammad saw menggabungkan jari-jari tangannya. Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba seorang lelaki datang meminta bantuan. Nabi hadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda : Tolonglah dia, maka kamu akan mendapatkan pahala. Dari Allah menetapkan lewat lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki.” (Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i)

Barang siapa yang menujukan pada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukanya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. (HR. Muslim 3509). Jadi kita turut andil dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat, Insya Allah, Allah akan melihatnya.

 

Anak Sholeh yang Mendoakannya

Jika kita punya anak shalih yang mendoakan kita, Insya Allah kita akan mendapat pahala juga karena kita telah berjasa mendidik mereka sehingga jadi anak yang shaleh. Oleh karena itu jika kita diamanahi anak oleh Allah, hendaknya kita didik mereka sebaik mungkin hingga jadi anak yang shaleh. Seorang ibu jangan ragu untuk meninggalkan pekerjaanya di kantor agar bisa focus mendidik anaknya.

Lalu bagaimana jika kita tidak punya anak kandung ? Di situ tidak dijelaskan apa anak shaleh itu anak kandung atau bukan. Jadi jika memelihara anak yatim piatu pun kita tetap akan mendapat pahala jika mereka jadi anak shaleh dan mendoakan kita.

Dari Abu Ummah, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa yang membelai kepala anak yatim piatu karena Allah SWT, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang diusap. Dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan laki-laki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah saw mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.” ( H.R Ahmad)

Dari situ jelas bahwa orang yang memelihara anak yatim dengan penuh kasih saying Insya Allah akan masuk surga. Surganya pun bukan surga tingkat rendah. Tapi surga tingkat tinggi karena berada di dekat nabi Muhammad saw laksana jari telunjuk dengan jari tengah.

Paling tidak jika ada anak dari saudara kita atau sepupu kita, santunin mereka. Bantu mereka. Menyumbang ke keluarga karena miskin yang ada anaknya ataupun panti asuhan Insya Allah bisa mendapatkan pahala. Wallahualam bishowab.

#redaksi_ziednie

Adil dan Berkeadilan

Al Falakiyah_Bogor.

10/4/2015

Bismillahirrahmahnirrahim

bw0099

Setiap manusia tentulah menginginkan kehidupan selamat dan bahagia. Kehidupan bahagia itu akan ada dan dinikmati seseorang ketika ia hidup dengan adanya rasa aman, tenang, nyaman, serasi dan harmoni dalam hidup dan kehidupannya. Salah satu factor utama yang dapat mewujudkan suasana hidup senang dan bahagia, itulah “Tegaknya Keadilan” dalam kehidupan baik pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.

Apabila keadilan tidak tegak maka suasana hidup dan kehidupan dengan segala tingkatan dan sektornya tentulah akan terganggu, bahkan tidak mustahil kehidupan akan berada pada situasi dan kondisi hancur berantakan. Akan melahirkan suasana galau dan kacau balau, wibawa hukum tidak ada, para aparatur pemerintah pun tidak disegani, penyimpangan-penyimpangan (khususnya korupsi) dengan segala bentuk dan sifatnya terjadi dimana-mana, pembangunan tidak berjalan sebagaimana mestinya, yang kuat semakin kaya dan yang miskin semakin menderita dan sengsara, gilirannya Negara dan bangsa menjadi korban pelecehan Negara dan bangsa lain.

Hakikat Adil

Kata adil berarti : sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak. Adil juga berarti : berpihak kepada yang benar. Dari sisi lain adil juga berarti “tidak bertindak sewenang-wenang”. Keadilan adalah sumber keseimbangan dalam hidup, adil juga sumber kebersamaan, sumber keserasian, sumber keharmonian. Nilai keadilan tidak hanya (berkaitan) dengan hukum positif beserta lembaga/badan serta para personil yang ada di dalamnya, akan tetapi nilai adil menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia dengan apa dan siapapun dalam hidupnya, baik yang berhubungan dengan segala makhluk maupun dengan jalur vertical (hablum minallah).

Pendek kata keberadaan seluruh makhluk termasuk manusia, kesemuanya tidak akan bisa hidup secara baik dan benar kecuali (semuanya) sesuai dengan fitrahnya masing-masing (berdasarkan) ketentuan Allah SWT. Keseimbangan dan keharmonian semua makhluk (termasuk manusia) di dunia ini tidak akan terjadi kecuali bersama nilai-nilai keadilan.

Adil dalam Aqidah

Dalam Islam masalah aqidah/iman ibarat bangunan adalah pondasinya. Sebagai pondasi posisi dan kondisinya harus kokoh. Tahan atau tidaknya seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan, hambatan dan gangguan tergantung pada kadar aqidah/imannya. Seseorang akan tetap pada posisinya (tidak goyah) apabila aqidah/imannya kokoh/kuat, dan sebaliknya, seseorang akan mudah goyah apabila aqidah/imannya lemah. Orang yang mampu bertahan (menang) dialah yang akan selamat dan selalu bersama lindungan dan bimbingan Allah SWT.

Secara fitrah manusia (seseorang) harus bersama aqidah/iman yang kokoh (kuat). Karena aqidah/iman yang kokoh adalah sesuatu yang paling tinggi nilainya di dalam diri seseorang dalam hidupnya. Oleh karena itu masalah aqidah/iman (bagi seorang muslim) adalah sesuatu yang harus dijaga, dibela dan dipertahankan dalam hidup dan kehidupan di dunia ini, yang dengan demikian ia akan selamat dari segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan hidup.

Adil dalam Ibadah

Allah SWT menciptakan seluruh makhluk-Nya dengan sungguh-sungguh dan sempurna. Seluruh ciptaan-Nya diciptakan-Nya dengan cermat, tidak ada yang salah semuanya termasuk manusia sebagai ciptaan-Nya yang paling sempurna, paling mulia dan ditetapkan-Nya sebagai wakil-Nya di muka bumi ini. Oleh karena itu manusia sangat tidak patut melakukan kedurhakaan kepada Allah, dengan kata lain si manusia tidak boleh melakukan ketidakadilan dalam hidupnya. Seharusnya manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dan paling mulia (wajib) menjalani hidup dengan nilai-nilai keadilan antara dirinya dengan Tuhannya. Dengan demikian berarti nilai-nilai keadilan telah mendasari hidup dan kehidupan seseorang itu.

Seorang muslim (dalam hidupnya) dituntut agar memposisikan diri dan kehidupannya dalam rangka ibadah (QS. Addzariyat[51]:56). Ada ibadah mahdhah, itulah shalat, puasa, zakat dan haji; sedangkan ibadah ghairu mahdhah, itulah seluruh aktivitas hidup (selain ibadah mahdhah). Apa saja kegiatan (pekerjaan) seorang muslim haruslah selalu dalam rangka karena Allah. Seseorang (dalam hidup) wajib mengetahui dan menyadari bahwa dirinya tidak pernah lepas dari hak dan kewajiban. Dalam satu sisi ia berhak dari apa dan siapa, namun (pada sisi lain) ia juga berkewajiban memberi/melakukan sesuatu untuk sang pemberi (sesuatu) haknya.

Adil dalam Bermu’amalah

                Dalam bermu’amalah ini manusia muslim dituntut melakukannya dengan Islami. Adanya saling memberi dan menerima. Boleh mengambil/menuntut hak tapi harus melakukan kewajiban. Prinsip ini harus berlangsung secara berimbang dalam seluruh aspek kehidupan dengan kata lain, nilai-nilai keadilan harus selalu ada baik pemberi maupun penerima.

Dalam bermu’amalah, antara sesama teman, antara orangtua dengan anak-anaknya, antara pedagang dan pembeli, antara pemerintah dan rakyat, antara guru dengan murid, antara pimpinan dengan yang dipimpinnya, antara satu dengan yang lain dan seterusnya harus berlangsung dengan adil dan berkeadilan, sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik, lancer dan benar.

Hidup dengan prinsip adil dan berkeadilan adalah sebagai kata kunci untuk mewujudkan kehidupan yang aman, tenang, dan nyaman, harmoni dan serasi. Keberadaan nilai-nilai adil dalam berinteraksi, setiap orang tidak boleh setengah hati, akan tetapi harus berlangsung secara maksimal (total), setiap individu memiliki keimanan baik dan maksimal, berlangsung diseluruh sector kehidupan, baik jalur vertical (hablum minallah) maupun horizontal (hablum minannas).

Fattaqullaha mastatha’tum…

#redaksi_ziednie

bw0017

Anak Sebagai Harapan

Al Falakiyah_Bogor.

10/4/2015

Kehadiran anak ditengah keluarga merupakan kebahagiaan dan menambah rezeki orangtuanya. Setiap lahir anak, dianjurkan Nabi SAW, untuk menyembelih aqiqah, mencukur rambut dan menamainya dengan nama yang baik, sebagai tanda rasa syukur atas rahmat dan rezeki yang tak ternilai harganya.bw0017

Anak sangat penting dalam pandangan Islam, bagi orangtua haruslah mengetahui kedudukan anak bagi orangtuanya yaitu :

  1. Anak sebagai Rahmat.

Salah satu rahmat Allah bagi orangtua adalah rahmat dikaruniai anak : “…dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka sebagai suatu Rahmat dari sisi Kami.” (QS. Al-Anbiya : 84)

  1. Anak sebagai Amanah

Amanah berarti sesuatu yang harus dipertanggung jawabkan nanti di hadapan Allah SWT. Menjadi kewajiban orangtua untuk memelihara, mendidik, membimbing agar menjadi anak sholeh.

  1. Anak sebagai ujian

Segala apa yang di anugerahkan Allah kepada kita merupakan ujian dari-Nya termasuk harta dan anak. “Dan ketahuilah, harta-hartamu dan anak-anakmu itu adalah sebagai ujian (fitnah)” (QS. Al-Anfal : 28)

  1. Anak sebagai penyejuk

Anak sebagai hadir menjadi qurrata’ayun atau penyejuk mata dan hati bagi orangtuanya, yang membuat mereka senang dan gembira. Begitu merasa bangga bahkan kadang berbangga-bangga berkat kehadiran anak di rumahnya.

Namun pesan yang tak boleh diabaikan, (QS. Al-Munafikun : 9) : “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah, siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang yang merugi.”

 

# Redaksi_ziednie