Ziarah, sebagai Tabarrukan Kepada Alim Ulama

DSCF2132

Masih dalam rangkaian  Tasyakkut khotmil  Qu’an, Sekolah Menengah Pertama  (SMP ) Tahfidz Qur’an  Al Falakiyah, Pagentongan, Bogor melaksanakan ziarah dan Silaturrahin ke Beberapa Alim Ulama di Banten. Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai tanda syukur dan mengenang jasa para Ulama  yang sudah tidak ada atau yang masih hidup dalam memperjuangkan agama Islam sehingga bisa tersebar di seluruh Nusantara.

Di samping itu juga sebagai upaya memperkenalkan para santri yang telah lulus dan Hafal AlQuran 30 JUz, 300 Hadits kepada para ulama yang masih hidup untuk didoakan supaya  ilmu yang hari ini mereka dapatkan lebih bisa bermanfaat  untuk mereka sendiri dan orang lain.

Kegiatan ini  dilaksanakan dua hari dari hari Rabu-Kamis, 27-28 Mei 2015 menuju Pandeglang, ziarah ke makam Abuya Dimyati, Cidahu Pandeglang, kemudian dilanjutkan bersilturrahim dengan salah satu putra Alm. Abuya Dimyati yaitu, Abuya Muhtadi Dimyati. Ulama yang juga terkenal dengan fatwanya yaitu, pelarangan murid-muridnya untuk mengikuti  HTI. Dalam kesempatan ini beliau memberikan pesan kepada para santri SMP TAHFIZH  ALFALAKIYAH, untuk memperdalam kitab-kitab agama dengan serius, mengingat  akhir-akhir ini banyak sekali kitab-kitab klasik peninggalan para Ulama dahulu yang tidak sesuai dengan kitab aslinya. Entah di sengaja atau tidak, kitab-kitab tersebut sudah ditemukan banyak sekali perubahan kalimat maupun pengurangan kalimat. Mengapa hal ini penting diluruskan? Karena apabila kalimat dirubah atau dikurang berakibat pada arti dan maksud yang bertolak belakang. Hal ini bisa menjadi bumerang dan fatal bagi ummat.

Dari Abuya Dimyathi, perjalan diteruskan menuju Sabi, Koroncong Pandeglang, ke tempat leluhur dan tanah kelahiran Abah Falak Abas, yaitu makam  Abah Abas, ayah dari Abah Falak Abas/KH TB Falak Abas. Sebuah kampong yang asri dan jaauh dari hiruk pikuk suasana perkotaan.

Perjalanan dilanjutkan ke Makam Habib syech Moch. Shib dan Syech Moch. Ruyani, Kadu Pinang di Pandeglang.

Karena hari telah gelap, perjalanan diputuskan untuk menginap di labuhan, di rumah salah satu wali santri, untuk dilanjutkan menuju Makam Syech Maulana Mansyuruddin, Cakdueuen, Pandeglang. Di sini bertemu dengan salah satu penerus dari syech Maulana Mansyuruddin yaitu Kyai  Asesp Saifudin, pengasuh pesantren Qur’an tanpa plang nama, Subhanallah, Pesantren yang tampak sepi dari luar, tapi begitu masuk suasana pesantren Qur’an langsung terasa dengan suara al Qu’ran yang bi baca para santri tanpa melihat al Qur’an alias bil Ghoib. Di tempat ini para santri diceritakan betapa kasepuhan di cikaudueun bahu membahu berjuang melawan penjajah dan mengajarkan agama dengan abah Falak di Pagentongan, Bogor.

Perjalanan di akhiri di pantai carita.

Kyai TB Asep Zulfiqor berpesan ; “Setelah ini para santri harus lebih giat lagi belajar,sehingga lulusan  SMP Tahfidz Qur’an AL FALAKIYAH yang akan meneruskan pendidikannya di SMA Hamalatul Qur’an ALFALAKIYAH, nant benar-banar menjadi generai penerus yang Hamilul Qur’an. Quran yang menjadi rule of Live, Al Qur’an yang benar-benar dijadikan petunjuk hidup dalam memimpin umat.” Cetusnya.

 

 

 

0saves
If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>